Tradisi Rebo Wekasan Di Jepang Mejobo Kudus

Sebagian masyarakat menyebutkan dengan rebo wekasan, rebo berarti hari rabu dan wekasan yang berarti pesanan. Berdasarkan makna tersebut, maka istilah Rebo wekasan hari rabu yang spesial tidak seperti hari rabu lainnya. Seperti barang pesanan yang dibuat secara khusus dan tidak dijual kepada semua orang. Kesimpulan yang bisa dipahami dari rebo weekasan  yang memang hanya dilaksanakan atau hanya ada dalam satu tahun sekali dimana para sesepuh berpesan (wekas) agar berhati-hati pada hari rabu wekasan. Tepatnya pada malam rabu terakhir dibulan shafar dalam penanggalan hijriyah, dan banyak yang menyebutkan rebo wekasan adalah rabu pungkasan.
Dan tidak diketahui asal pasti kapan tradisi rebo wekasan diselenggarakan oleh masyarakat Desa Jepang, Mejobo, Kudus. Menurut penuturan Mastur (ketua masjid wali Al-Makmur), tradisi tersebut telah berlangsung cukup lama, yakni pada saat Sayid Ali Idrus datang ke desa Jepang untuk berdakwah menyampaikan ajaran islam, sejak awal penyelenggaraannya tradisi rebo wekasan dipusatkan di masjid wali Al-Makmur. Masjid Wali Al-Makmur adalah masjid yang dibangun oleh seorang waliyullah. Meskipun tidak dapat memastikan, mbah Habsin, juru kunci masjid Wali, menjelaskan bahwa berdasarkan cerita turun menurun yang berkembang dimasyarakat, masjid ini didirikan oleh Ario Penangsang dari Jipang Panolan, yang merupakan murid dari sunan Kudus, Raden Ja'far Shodiq. 
Masjid wali menjadi sangat istimewa dan keramat bagi masyarakat desa Jepang, dengan adanya sumur peninggalan sunan Kudus yang terdapat disamping masjid. Air sumur tersebut, terutama yang diambil pada malam rabu wekasa, diyakini oleh masyarakat desa Jepang dapat membawa keberkahan dan keselamatan bagi siapapun yang memanfaatkannya karena itu air sumur tersebut dinamakan banyu salamun.
Menurut penuturan mbah Habsin kegiatan rebo wekasan awalnya dilaksanakan secara sederhana, yakni pembacaan ritual doa, dan bagian  banyu salamun  dari sumur yang terletak disampung masjid wali al-makmur pada malam rebo wekasan. Banyu salamun yang diambil dari sumur masjid wali tersebut diyakini oleh masyarakat desa Jepang dapat memberikan keselamatan dan menolak segala bencana yang diturunkan pada saat itu. Banyu salamun  tersebut menjadi lebih berkhasiat jika diambil pada malam rabu wekasan. Karena itu masyarakat desa Jepang hingga sekarang selalu menjaga tradisi rebo wekasan untuk menghadapi berbagai bencana dan mala petaka yang diturunkan pada malam rabu terakhir dibulan shafar. 
Acara tersebut dilaksanakan secara 2 minggu dan di ramaikan dengan pasar malam, pentas seni, sebelum menggambil banyu salamun ada arak-arakannya, dan di laksanakan mulai ba'dal magrib sampai subuh warga berbondong-bondong untuk menggambil air tersebut dan di iringi dengan terbang 4 dari khas kudus.
Menurut pandangan mas andi rebo wekasan adalah sebuah tradisi ritual air salamun tetapi disini di mewahkan tidak seperti di daerah yang lain dan tidak semeriah di desa jepang 
Manfaatnya di air salamun itu sebelum di berikan kepada warga terlebih dahulu di beri doa yang kemudia baru di berikan kepada warga  sebagai penolak balak .
Makna tradisi rebo wekasan bagi masyarakat desa jepang bukan sekedar tradisi budaya, tetapi juga merupakan bagian dari keberagamaan masyarakat. Melalui upacara ritual keagamaan mereka berharap memperoleh keselamatan dan kesejahteraan hidup. 

Komentar